Syaikh Suhaimi merupakan sosok ulama kharismatik yang hingga kini dikenang bukan hanya karena kedalaman spiritualnya, tetapi juga karena laku hidupnya yang penuh keheningan, kerahasiaan, dan karomah. Ia adalah figur yang sepanjang hidupnya memilih untuk tidak menonjolkan diri, bahkan cenderung menghindari eksposur publik, meskipun pengaruhnya menyebar luas lintas daerah dan generasi.
Menurut penuturan keluarga dan murid-murid dekatnya, Syaikh Suhaimi datang ke wilayah Bekasi pada usia sekitar 12 tahun. Asal-usul keluarganya tidak pernah ia ceritakan secara jelas, bahkan kepada anak dan murid terdekatnya. Ia sendiri kerap mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui secara pasti siapa orang tuanya dan dari mana asalnya. Karena sering terlihat berbaur dengan para pedagang, sebagian orang menduga ia berasal dari keluarga pedagang, namun dugaan itu tidak pernah terkonfirmasi.
Sejak awal, kehidupannya diliputi misteri. Tidak ada catatan resmi mengenai guru-guru tempat ia menimba ilmu. Hingga kini, silsilah keilmuan formalnya tetap menjadi tanda tanya. Namun justru dari ketiadaan catatan itulah para murid meyakini bahwa ilmu yang dimilikinya merupakan karunia ilahi yang diperoleh melalui laku spiritual yang panjang dan berat.
Syaikh Suhaimi dikenal sebagai pribadi yang sangat zuhud. Ia tidak menyukai keramaian, tidak gemar dipuji, dan menolak ketenaran. Bahkan ketika media mulai tertarik mengangkat kisah-kisah karomahnya, ia menolak untuk diwawancarai. Dalam beberapa kejadian, upaya dokumentasi—baik foto maupun video—dilaporkan gagal atau hasilnya hilang tanpa sebab yang jelas.
Ia lebih memilih hidup dalam kesunyian, menggembleng murid-muridnya secara langsung dengan disiplin spiritual yang ketat. Bagi beliau, ilmu bukan untuk dipamerkan, apalagi digunakan demi kepentingan duniawi. Karena itu pula, banyak amalan dan wirid yang diwariskan secara sangat terbatas, hanya kepada murid yang dinilai siap secara lahir dan batin.
Karomah dan Kisah Empat Tempat
Salah satu kisah yang paling dikenal adalah peristiwa ketika Syaikh Suhaimi diyakini hadir di empat tempat berbeda pada waktu yang sama, tepatnya pada malam Jumat. Empat muridnya masing-masing mengadakan acara hadiahan dan berharap beliau berkenan hadir. Pada malam yang sama, selepas Isya, keempatnya merasa didatangi dan dipimpin langsung oleh sang guru. Keanehan baru disadari keesokan paginya, ketika mereka saling bertemu dan menyadari bahwa peristiwa itu terjadi pada waktu dan jam yang sama.
Saat hal itu diperdebatkan di hadapan beliau, Syaikh Suhaimi hanya tersenyum dan berkata kurang lebih, “Kalian semua meminta didatangi, maka aku datang. Untuk apa diperdebatkan?” Bagi para murid, peristiwa ini menjadi salah satu bukti karomah yang tidak pernah beliau akui secara terbuka.
Syaikh Suhaimi wafat pada tahun 1950 dalam usia sekitar 63 tahun. Dari keluarganya, salah satu anak yang dikenal mewarisi ilmu karomah adalah Ibu Supina, putrinya yang tidak menikah hingga akhir hayat. Ia dikenal sangat mencintai ilmu dan menjalani laku spiritual yang berat. Makamnya berada di sisi makam ayahnya, menandai kesinambungan batin antara keduanya.
Adapun istri Syaikh Suhaimi dimakamkan di area terpisah. Hal ini disebabkan kondisi keluarga setelah wafatnya beliau, di mana sang istri kemudian menikah lagi beberapa tahun setelahnya, sebagaimana lazim terjadi pada masa itu.
Hubungan dengan Tokoh Nasional
Dalam kisah pemakaman Syaikh Suhaimi, beredar cerita tentang sosok misterius yang membantu prosesi pemakaman, bahkan menurunkan jenazah ke liang lahat. Sosok tersebut oleh sebagian orang diyakini mirip dengan Presiden Soekarno. Meski tidak pernah ada dokumentasi resmi, keyakinan ini hidup kuat di tengah masyarakat dan keluarga, terutama karena beberapa peristiwa lanjutan yang menunjukkan kedekatan batin antara keluarga Syaikh Suhaimi dan tokoh nasional tersebut.
Hingga kini, makam Syaikh Suhaimi tidak pernah sepi dari peziarah. Menariknya, banyak di antara mereka datang bukan karena informasi sejarah semata, melainkan karena “petunjuk batin”. Ada yang datang dari Jawa, Madura, Lampung, hingga Sulawesi. Bahkan sebagian peziarah mengaku sempat tersesat atau tidak menemukan jalan, seolah tempat ini hanya “terbuka” bagi mereka yang mendapat keridhaan.
Prinsip pengelola makam hingga kini sederhana: siapa pun yang datang dengan niat baik, adab, dan sopan santun akan diterima. Selebihnya, urusan batin diserahkan sepenuhnya kepada Allah dan karomah sang wali.
Tradisi dan Warisan Spiritual
Salah satu tradisi yang terus dijaga adalah amalan dan hadiahan pada malam Jumat Kliwon. Tradisi ini diyakini sebagai pesan langsung dari Syaikh Suhaimi agar tidak ditinggalkan. Acara tersebut berisi doa, tawasul, dan hadiahan kepada Nabi Muhammad SAW, para wali, dan khususnya kepada beliau. Tidak selalu disertai jamuan besar; yang utama adalah kekhusyukan dan niat. Haul Syaikh Suhaimi juga diperingati secara berkala, termasuk penetapan haul khusus yang kemudian dipisahkan dari haul murid-muridnya demi menjaga kekhidmatan dan kejelasan sejarah.
Syaikh Suhaimi adalah sosok yang hidup dalam kesunyian namun pengaruhnya bergema panjang. Ia tidak meninggalkan banyak tulisan, tidak pula rekaman suara atau gambar yang utuh. Yang ia wariskan adalah jejak batin: adab, laku spiritual, dan keyakinan bahwa ilmu sejati tidak selalu harus tampak. Hingga hari ini, namanya tetap hidup dalam doa, ziarah, dan cerita yang terus mengalir dari mulut ke mulut, dijaga dengan penuh hormat oleh keluarga dan para pencari jalan ruhani.
*Wawancara dengan Bapak Encup (Cucu Eyang Suhaimi)