KH Muchtar Thabrani berasal dari keluarga sederhana, namun mampu meraih pendidikan hingga ke Tanah Suci. Ia lahir di Kampung Nangka, Bekasi—kini dikenal sebagai Kaliabang Nangka, Bekasi Utara—pada tahun 1901. Ayahnya, Thabrani, hanyalah seorang petani kecil yang hidup sederhana, namun memiliki harapan besar terhadap putra sulungnya itu.
Sejak kecil, Muchtar sudah diarahkan oleh sang ayah agar kelak menjadi ulama. Karena itu, ia diserahkan untuk belajar Al-Qur’an kepada Syekh Abdul Mughni bin Sanusi bin Ayyub bin Qays atau yang dikenal sebagai Guru Mughni di Kampung Kuningan, Jakarta. Bahkan diceritakan, setiap kali ada ulama yang singgah di Kaliabang Nangka, Thabrani selalu mendatangi mereka untuk memohon doa agar putranya menjadi pribadi yang alim. Setelah itu, Muchtar kecil melanjutkan pendidikan agamanya ke pesantren yang diasuh oleh Syekh Ahmad Marzuqi (Guru Marzuki) di Cipinang Muara.
Ketika beranjak dewasa dan ilmunya semakin matang, Muchtar kembali ke kampung halaman untuk mengamalkan pengetahuannya serta memulai dakwah. Pada masa itu, masyarakat Kaliabang Nangka masih dipengaruhi kepercayaan animisme dan dinamisme sehingga banyak praktik yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Di kemudian hari, Muchtar melanjutkan pendidikannya ke Tanah Suci, berguru kepada banyak ulama seperti Syekh Muchtar At-Tarid dan terutama Syekh Ahyad, yang paling berpengaruh dalam perjalanan keilmuan beliau. Ia belajar di sana selama kurang lebih 13 tahun. Dari pernikahannya, ia dikaruniai empat putra dan tiga putri, termasuk KH Aminuddin Muchtar, KH Aminulloh Muchtar, KH Ishomuddin Muchtar, dan Ustadzah Hj Nurhammah Muchtar.
Pada tahun 1950, sepulang menuntut ilmu, Kiai Muchtar mendirikan pesantren bernama Pondok Pesantren Kaliabang Nangka, mengambil nama kampung kelahirannya. Pesantren tersebut kemudian berkembang dan menjadi cikal bakal Pondok Pesantren An-Nur, yang kini dikenal luas di Bekasi dan sekitarnya.
KH Muchtar Thabrani wafat pada tahun 1971. Ia meninggalkan warisan sangat berharga berupa pesantren serta sejumlah karya tulis, di antaranya Targhiib al-Ikhwan fii Fadhiilah ‘Ibaadaat Rajab wa Sya’baan wa Ramadhaan dan Tanbiih Al-Ghaafil fii At-Taththawu’aat wa al-‘Ibaadaat wa an-Nawaafil. Untuk mengenang jasa dan kontribusinya, nama KH Muchtar Thabrani kini diabadikan sebagai nama jalan di wilayah Kampung Kaliabang Nangka, Kelurahan Perwira, Bekasi Utara. Beliau dimakamkan di Komplek Masjid An-Nur, Kaliabang Nangka.