Edisi No. 039/LDNU/III/01/2026
Khutbah I
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Segala Puji bagi Allah swt, dengan ucapan “Alhamdulillah” atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita, semoga dengan mensyukuri nikmat pemberian itu, Allah menambahnya dengan yang berlipat ganda. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah atas baginda Nabi Muhammad Saw. Dari atas mimbar ini, khotib berpesan kepada diri sendiri dan kepada jamaah semuanya, mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa. yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Alhamdulillah, pada kesempatan ini kita ada di Bulan Rajab, 1 diantara 4 bulan Harom. Dan pada bulan Rajab ini kita mengenang salah satu peristiwa agung dalam sejarah Islam, yaitu Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Dalam peristiwa ini, Rasulullah diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Di sanalah beliau menerima perintah shalat lima waktu, yang menjadi tiang agama dan sarana utama untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Di bulan Rojab ini, banyak Masjid, Mushola, Majlis taklim di lingkungan kita berlomba-lomba memperingati peristiwa Isra Miraj ini. Beragam cara diadakan dari yang sederhana sampai acara yang meriah. Jika kita tafakuri, apa dampak dari semua rangkaian perayaan tersebut kepada akhlak masyarakat?
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga pelajaran moral bagi umat Islam. Shalat yang diwajibkan adalah sarana penyucian jiwa, pengendalian hawa nafsu, dan pembentuk akhlak mulia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-‘Ankabūt [29]: 45)
Maka, jika shalat kita benar, seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari: kita bisa berlaku jujur, amanah, saling menghormati, dan menjauhi kemaksiatan.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Masyarakat kita saat ini menghadapi berbagai tantangan moral: maraknya korupsi, perpecahan, ujaran kebencian, hingga lunturnya rasa kepedulian sosial. Peristiwa Isra’ Mi’raj mengingatkan kita bahwa perbaikan moral masyarakat dimulai dari perbaikan individu. Jika setiap muslim menjaga shalatnya, maka akan lahir masyarakat yang berakhlak, penuh kasih sayang, dan berkeadilan.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita bersama-sama menjadikan Isra’ Mi’raj sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan lingkungan kita. Mari kita tegakkan shalat dengan khusyuk, jadikan ia sebagai benteng dari perbuatan tercela, dan dorong keluarga serta masyarakat untuk menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Perbaikan moral masyarakat tidak bisa hanya dengan nasihat, tetapi harus dengan teladan nyata. Rasulullah Saw adalah teladan terbaik dalam kejujuran, kesabaran, dan kepedulian sosial. Jika kita meneladani beliau, insyaAllah masyarakat kita akan menjadi lebih baik.
Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan hanya kisah perjalanan spiritual Nabi Muhammad Saw, tetapi juga mengandung pesan moral yang sangat relevan untuk menjadi pendorong perubahan moral umat, diantaranya adalah:
1. Shalat sebagai Tiang Moral
Shalat lima waktu adalah inti dari Isra’ Mi’raj nya Nabi Muhammad Saw. Shalat bukan sekadar ritual, tetapi didalamnya terdapat pesan-pesan moral seperti latihan disiplin untuk bisa mengerjakannya lima kali sesuai dengan waktunya, solat juga mengajarkan pengendalian diri, dan tentu menjadi pengingat akan kehadiran Allah dalam aktivitas sehari-hari manusia. Jika shalat ditegakkan dengan benar, ia akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Seperti yang temaktub dalam QS. Al-‘Ankabut: 45.
Artinya, shalat menjadi motor penggerak perubahan moral individu yang kemudian berdampak pada masyarakat.
2. Kesadaran Spiritual yang Menguatkan Etika Sosial
Isra’ Mi’raj menunjukkan bahwa kehidupan dunia hanyalah bagian kecil dari perjalanan menuju Allah. Kesadaran ini menumbuhkan sikap rendah hati, jujur, dan amanah. Orang yang sadar akan pertanggungjawaban di hadapan Allah akan lebih berhati-hati dalam berbuat, sehingga moral masyarakat terjaga.
Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أتاني جبريلُ ، فقال : يا محمدُ عِشْ ما شئتَ فإنك ميِّتٌ ، وأحبِبْ ما شئتَ ، فإنك مُفارِقُه ، واعملْ ما شئتَ فإنك مَجزِيٌّ به ، واعلمْ أنَّ شرَفَ المؤمنِ قيامُه بالَّليلِ ، وعِزَّه استغناؤه عن الناسِ
“Jibril ‘alaihissalam pernah datang kepadaku seraya berkata, ‘Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau akan menjadi mayit. Cintailah siapa saja yang engkau senangi, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah semaumu, sesungguhnya engkau akan menuai balasannya. Dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada salat malam dan kehormatannya adalah rasa kecukupan dari manusia.’” (HR. Thabrani)
3. Teladan Rasulullah
Perjalanan agung (Isra Miraj) ini adalah bentuk hiburan (tasliyah) dari Allah SWT untuk mengobati hati Nabi Muhammad yang sedih karena ditinggal oleh orang-orang tercinta (Istri dan Pamannya) dan bertujuan untuk memulihkan semangat dakwahnya kembali. Saat peristiwa Isra Miraj itu terjadi dikenal sebagai tahun kesedihan ('Aam al-Huzn'). Karenanya Isra Miraj merupakan sebuah kenikmatan yang tiada tara. Namun Nabi Muhammad ﷺ setelah Isra’ Mi’raj tetap kembali kepada umatnya, menghadapi kenyataan yang ada, mulai tantangan sosial, politik, dan moral dengan sabar. Hal ini mengajarkan bahwa spiritualitas tidak boleh menjauhkan kita dari realitas sosial, justru harus memperbaiki masyarakat. Umat bisa meneladani beliau dalam kejujuran, kepedulian, dan keberanian menegakkan kebenaran.
4. Momentum Perbaikan Kolektif
Isra’ Mi’raj sering diperingati bersama-sama, di Masjid, Mushola, Majlis Taklim, perkantoran dan komunitas-komunitas yang ada, dengan beragam cara dan suasana yang menelan banyak biaya. Tentu Hal ini jangan disia-siakan, jangan sampai hanya menjadi kegiatan rutin setiap tahun tanpa ada bekas. Melainkan ini bisa menjadi sarana dakwah dan pengingat untuk perbaikan moral. Peringatan ini bisa dijadikan gerakan sosial untuk menguatkan nilai keadilan, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, Isra’ Mi’raj bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi energi moral kolektif bagi umat.
5. Menghubungkan Ibadah dengan Akhlak
Isra’ Mi’raj menegaskan bahwa ibadah tidak boleh terpisah dari akhlak. Shalat yang benar akan melahirkan perilaku yang benar: tidak korupsi, tidak menipu, tidak merugikan orang lain. Inilah cara paling nyata bagaimana Isra’ Mi’raj mendorong perubahan moral umat.
Jadi Isra’ Mi’raj menjadi pendorong perubahan moral umat dengan menjadikan shalat sebagai pusat pembentukan karakter, menumbuhkan kesadaran spiritual, meneladani Rasulullah, serta memperkuat gerakan sosial yang berlandaskan akhlak mulia.
Semoga Allah Swt menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur dan terus istiqomah menjalankan sholat dan memperbaiki diri untuk terus istiqomah di jalan-Nya. Aamiin ya robbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ .وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. أللهمَّ ادْفَعْ عَنَّ البلَاء وَالوَباء وَالفخْشَاء وَالْمُنْكَرَ والشَّدَائِدَ والمِحَن ما ظَهَر منْهَا وَمَا بَطَن في بِلادِنَا هَذَا خاصَّةً وَفِي بُلْدان المسْلِمِينَ عامَّة بِرَحْمَتِكَ يا أرْحَمَ الرَاحِميْن . رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
*(Penulis : Ust. Ilman,M.Sos. Ketua LDNU Kota Bekasi )