Kolaborasi dengan Mafindo, PC Pergunu Kota Bekasi Bekali Guru NU lewat Pelatihan AI Ready ASEAN

Kolaborasi dengan Mafindo, PC Pergunu Kota Bekasi Bekali Guru NU lewat Pelatihan AI Ready ASEAN

Bekasi (PCNU Kota Bekasi) — Bekerja sama dengan Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) Bekasi Raya, Pimpinan Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PC Pergunu Kota Bekasi) menyelenggarakan pelatihan AI Ready ASEAN pada Kamis, 12 Februari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Gedung NU Centre, Kota Bekasi, dan diikuti oleh para guru dari berbagai wilayah di Kota Bekasi.

Pelatihan ini menghadirkan Happy Ika Melvina sebagai trainer utama. Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua PC Pergunu Kota Bekasi Muhammad Misbah, S.Ag, Dr. H. Heri Kuswara, M.Kom selaku Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Bidang Kaderisasi dan Keorganisasian, serta Wakil Ketua Tanfidziyah Agung Sartono, A.Md.

Kegiatan AI Ready ASEAN ditujukan untuk membekali para guru dengan pemahaman dan keterampilan dalam memanfaatkan Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI) secara cerdas, etis, dan relevan dalam proses pembelajaran. Adapun materi yang disampaikan meliputi dasar-dasar AI dan penerapannya di dunia pendidikan, etika, privasi, dan keamanan dalam penggunaan AI, serta strategi pemanfaatan AI di kelas.

Program AI Ready ASEAN merupakan kelanjutan dari kemitraan antara ASEAN Foundation dan Google.org, yang bertujuan membekali masyarakat dengan keterampilan untuk menghadapi perkembangan pesat teknologi AI di masa depan.

Dalam sambutannya, Dr. H. Heri Kuswara, M.Kom menegaskan bahwa pelatihan ini sejalan dengan khashais fikrah Nahdliyah. Menurutnya, warga Nahdlatul Ulama harus mampu mengikuti perkembangan zaman, bersikap tawassuth atau moderat, serta memiliki pendekatan manhajiyah atau metodologis. “Pelatihan ini menjadi ikhtiar membangun metodologi baru dalam dunia pendidikan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pelatihan AI ini selaras dengan Kredo Nahdliyah, yakni al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih (menjaga tradisi lama yang baik) dan wal akhdzu bil jadidil ashlah (mengambil hal baru yang lebih baik). Dengan demikian, para guru NU diharapkan memiliki kompetensi pendidik abad ke-21 tanpa meninggalkan nilai-nilai ke-NU-an.

Sementara itu, Ketua Panitia Ade Ferra Luciana menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai upaya strategis untuk membekali para guru dengan pemahaman AI agar mampu menyesuaikan diri dengan dinamika dan tantangan pendidikan di era digital yang terus berkembang.

Artikel Terkait