Bekasi (PCNU Kota Bekasi) - Hari ini, Bekasi dikenal sebagai kota urban yang padat, dinamis, dan menjadi salah satu urat nadi kawasan Jabodetabek. Namun, jauh sebelum deretan pabrik, jalan tol, dan kawasan hunian modern berdiri, wilayah ini telah memainkan peran penting dalam sejarah panjang Pulau Jawa. Perjalanan Bekasi adalah kisah perubahan besar: dari hamparan agraris kerajaan kuno hingga menjadi pusat industri dan urbanisasi modern.
Jejak Awal Peradaban: Era Tarumanegara
Sejarah Bekasi dapat ditarik hingga masa Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-4 Masehi. Kerajaan Hindu tertua di Jawa Barat ini meninggalkan jejak kuat melalui prasasti-prasasti batu, salah satunya Prasasti Tugu yang berkaitan dengan proyek pengairan Raja Purnawarman.
Wilayah yang kini dikenal sebagai Bekasi diduga menjadi bagian dari kawasan pendukung pertanian kerajaan. Aliran sungai dan tanah yang subur menjadikan daerah ini strategis sebagai lumbung pangan dan tempat bermukim masyarakat awal.
Bagian dari Tanah Sunda
Runtuhnya Tarumanegara tidak menghapus peran Bekasi. Wilayah ini kemudian masuk dalam kekuasaan Kerajaan Sunda dengan pusat pemerintahan di Pakuan Pajajaran. Dalam naskah dan penamaan kuno, Bekasi dikenal sebagai Bhagasasi atau Bagasasi.
Pada masa ini, Bekasi tetap berfungsi sebagai kawasan agraris sekaligus jalur penghubung penting antara pedalaman Sunda dan kawasan pesisir. Letaknya yang strategis membuat wilayah ini bersentuhan dengan aktivitas perdagangan, termasuk interaksi dengan pedagang asing.
Pergeseran Kekuasaan: Banten dan Mataram
Memasuki abad ke-16, runtuhnya Kerajaan Sunda membawa Bekasi ke dalam pengaruh Kesultanan Banten yang sedang berkembang sebagai kekuatan Islam di Jawa Barat. Tidak lama kemudian, Kesultanan Mataram dari Jawa Tengah turut memperluas pengaruhnya.
Tarik-menarik kepentingan antara Banten dan Mataram menjadikan Bekasi sebagai wilayah strategis, terutama karena kedekatannya dengan Batavia yang telah dikuasai VOC.
Bekasi di Bawah Bayang Kolonial
Pada masa penjajahan Belanda, posisi Bekasi semakin penting. Wilayah ini menjadi penghubung antara Batavia dan kawasan timur Jawa Barat. Pemerintah kolonial membangun berbagai infrastruktur, termasuk jalan dan jalur kereta api.
Secara administratif, Bekasi berada di bawah wilayah Meester Cornelis. Meski demikian, perlawanan rakyat tidak pernah padam. Bekasi menjadi salah satu arena perjuangan rakyat melawan kolonialisme, terutama menjelang dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan.
Tahun-Tahun Awal Republik
Pasca 1945, Bekasi memegang peran strategis dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kedekatannya dengan Jakarta membuat wilayah ini kerap menjadi medan pertempuran pada masa agresi militer Belanda.
Setelah situasi stabil, Bekasi mulai ditata sebagai wilayah administratif yang lebih jelas. Fungsi utamanya masih sebagai kawasan pertanian dan pemukiman penyangga ibu kota.
Lahirnya Kabupaten Bekasi
Pada dekade 1960-an, Bekasi resmi berdiri sebagai Kabupaten Bekasi. Penetapan ini menjadi titik penting dalam pengelolaan wilayah dan pembangunan daerah. Fokus pembangunan kala itu masih bertumpu pada sektor agraris dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Ledakan Industri dan Perubahan Wajah Bekasi
Perubahan besar terjadi pada era 1980-an. Kebijakan industrialisasi nasional mendorong Bekasi menjadi kawasan industri unggulan. Kawasan-kawasan industri raksasa seperti Jababeka, MM2100, dan EJIP tumbuh pesat.
Dampaknya luar biasa: arus migrasi meningkat, jumlah penduduk melonjak, dan wajah Bekasi berubah dari kawasan agraris menjadi pusat manufaktur nasional.
Urbanisasi dan Infrastruktur Modern
Masuk tahun 1990-an hingga awal 2000-an, pembangunan infrastruktur digenjot. Jalan tol Jakarta–Cikampek, jaringan jalan arteri, serta transportasi kereta mempercepat mobilitas manusia dan barang.
Perumahan, apartemen, pusat perbelanjaan, dan fasilitas publik bermunculan. Bekasi berkembang sebagai kawasan hunian utama bagi para pekerja industri dan komuter Jakarta.
Kota Bekasi Resmi Berdiri
Tahun 1996 menjadi tonggak penting ketika Bekasi dimekarkan menjadi Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi. Kota Bekasi diarahkan sebagai kawasan urban modern, sementara kabupatennya tetap menjadi basis industri dan kawasan agraris.
Sejak saat itu, Kota Bekasi semakin mengukuhkan posisinya sebagai kota satelit utama Jakarta.
Bekasi di Era Kontemporer
Memasuki abad ke-21, Bekasi terus bertransformasi. Pembangunan transportasi massal, kawasan komersial, hunian vertikal, hingga konsep kota pintar mulai diterapkan. Di sisi lain, Bekasi tetap menjadi jantung industri nasional yang menopang perekonomian Indonesia.