Edisi No. 043LDNU/III/02/2026
Khutbah I
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لله ,الحمدُ للهِ الَّذي جَعَلَ شَهْرَ شَعْبانَ شَهْرًا مُبارَكًا، وَجَعَلَهُ مُقَدِّمَةً لِشَهْرِ رَمَضانَ. أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ,اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحابِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. Dialah yang masih memberi kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk beribadah pada hari Jumat yang mulia ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang baik ini, khotib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dengan sebenar-benar takwa, yakni melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Bulan Sya'ban Adalah bulan yang terjepit di antara dua bulan besar: Rajab yang mulia dan Ramadhan yang suci. Akibatnya, banyak dari kita yang menjadikan Sya'ban hanya sekadar "masa transisi" atau waktu santai sebelum "pertempuran" ibadah di bulan puasa. Padahal, jika kita menengok lembaran sejarah, bulan Sya'ban menyimpan sebuah peristiwa monumental yang mengubah identitas umat Islam untuk selamanya. Peristiwa itu terjadi pada pertengahan bulan Sya'ban tahun ke-2 Hijriah. Sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Tahwilul Qiblah atau Pemindahan Arah Kiblat.
Izinkan saya mengajak hadirin sekalian untuk merenungi peristiwa ini lebih dalam, bukan sekadar sebagai sejarah, tapi sebagai cermin bagi persiapan rohani kita.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Setelah Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, selama kurang lebih 16 hingga 17 bulan, umat Islam melaksanakan salat menghadap ke utara, yaitu ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) di Palestina. Pada masa itu, kaum Yahudi di Madinah seringkali melontarkan ejekan yang menyakitkan hati Nabi dan para sahabat. Mereka berkata, "Lihatlah Muhammad, dia mengaku membawa agama baru dan menyelisihi kami, tapi salatnya masih mengikuti kiblat kami." Ejekan ini menjadi tekanan batin tersendiri bagi Rasulullah Saw. Beliau ingin umat ini memiliki identitas sendiri, sebuah kiblat yang merujuk pada Bapak para Nabi, Ibrahim as., yakni Ka'bah.
Maka, dikisahkan bahwa Rasulullah Saw sering menengadahkan wajah beliau ke langit di malam hari, memendam rindu, menunggu wahyu, berharap Allah memindahkan arah kiblat. Beliau tidak menuntut, beliau hanya berharap dengan penuh adab. Hingga akhirnya, di bulan Sya'ban, saat beliau sedang memimpin salat di Masjid Bani Salimah atau sekarang dikenal dengan Masjid Qiblatain, turunlah Malaikat Jibril membawa firman Allah, Surah Al-Baqarah ayat 144:
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَاۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Bayangkan situasinya. Wahyu ini turun bukan saat pengajian, bukan saat istirahat, tapi di tengah-tengah pelaksanaan salat. Rasulullah Saw saat itu juga langsung memutar arah tubuh beliau 180 derajat, dari arah utara memutar ke selatan (ke arah Makkah).
Lalu, apa yang dilakukan para makmum?
Inilah poin yang paling menggetarkan hati. Para sahabat di belakang beliau, ketika melihat Nabi berputar, mereka tidak bertanya, mereka tidak berdebat, dan mereka tidak menunggu salat selesai. Saat itu juga, dalam posisi salat, mereka ikut memutar tubuh mengikuti gerakan Nabi.
Inilah definisi Sami’na wa Atha’na (Kami dengar dan kami taat) yang sesungguhnya. Mereka tidak menggunakan logika "Nanti dulu ya Rasul, nanggung, tinggal satu rakaat lagi". Tidak! Perintah Allah datang, logika manusia tunduk.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Peristiwa fisik ribuan tahun lalu ini sesungguhnya adalah teguran keras bagi kita di zaman modern. Allah Swt berfirman dalam lanjutan ayat tentang kiblat di Surah Al-Baqarah ayat 143, bahwa perubahan kiblat itu adalah ujian: "...agar Kami mengetahui (secara nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot."
Di bulan Sya'ban ini, mari kita tanya pada diri sendiri: Jika fisik kita punya kiblat ke Ka'bah, lantas ke mana arah kiblat hati kita selama ini?
Apakah kiblat hati kita adalah Materi? Sehingga salat kita tidak khusyuk karena memikirkan untung rugi?
Apakah kiblat hati kita adalah pujian manusia? Sehingga amal ibadah kita semangat saat dilihat orang, tapi malas saat sendirian?
Apakah kiblat hati kita adalah jabatan? Sehingga kita rela menyikut saudara sendiri demi posisi?
Sya'ban adalah waktu yang tepat untuk "Putar Balik".Sebagaimana Rasulullah dan para sahabat memutar fisik mereka di bulan Sya'ban, kita pun harus memutar hati kita. Yang tadinya kiblat hatinya adalah dunia, putarlah menuju Akhirat. Yang tadinya beribadah karena kebiasaan, putarlah menjadi karena kebutuhan akan Allah.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kenapa peristiwa ini relevan dengan persiapan Ramadhan? Bayangkan sebuah kompas. sebelum kita melakukan perjalanan jauh (yaitu perjalanan puasa Ramadhan), kita harus melakukan kalibrasi ulang agar arahnya tepat. Jangan sampai kita masuk bulan Ramadhan, fisik kita puasa menahan lapar, tapi hati kita tidak menghadap kepada Allah. Itu hanya akan menghasilkan lapar dan dahaga tanpa pahala.
Maka, manfaatkan sisa hari di bulan Sya'ban ini untuk:
Meluruskan Niat: Pastikan segala lelah kita bekerja dan beribadah hanya Lillahi Ta'ala.
Membiasakan Respons Cepat: Seperti para sahabat yang langsung berputar saat diperintah. Jika azan terdengar, segeralah salat. Jika ada kesempatan sedekah, segeralah memberi. Latih respons "segera" ini sebelum Ramadhan tiba.
Memisahkan Diri dari Keburukan: Sebagaimana kiblat Ka'bah memisahkan identitas Muslim dari kaum lainnya, mari kita pisahkan diri kita dari kebiasaan buruk, dosa-dosa kecil, dan lingkungan toxic yang merusak iman.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sebagai penutup, mari kita berdoa. Semoga peristiwa perubahan kiblat ini menginspirasi kita untuk berani berubah. Berani meninggalkan kenyamanan dosa menuju ketaatan yang mungkin berat di awal, namun indah pada akhirnya.
Semoga Allah Swt memberkahi kita di bulan Sya'ban ini, dan menyampaikan umur kita ke bulan Ramadhan dalam keadaan hati yang sudah "menghadap" dengan benar kepada-Nya.
Aamin ya Rabbal ‘Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ .وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
*(Penulis: Ust. Mohammad Faiz Zuhry, SE. Editor: Ilman)